“Sampah”
Mungkin sudah tidak asing lagi kata itu bagi kita. Setiap hari setidaknya kita sudah menemui berbagai jenis sampah mulai dari yang dapat membusuk maupun tidak, dapat di daur ulang maupun tidak, dan berbagai klasifikasi lainnya.
Pada dasarnya, sampah memang akan selalu ada di sekitar kita baik itu dari aktivitas manusia, limbah, daun-daun yang berguguran dan sebagainya. Namun, hal penting yang kita dapat dengan memperhatikan adanya sampah adalah bagaimana cara menangani/menindaklanjutinya.
Sampah yang berbeda tentunya akan memerlukan perhatian dan penanganan yang berbeda, misalnya sampah daun dapat dikomposkan, dan sampah aluminium dan plastik dapat didaur ulang.
Mungkin sekilas keadaan sudah terlihat membaik di mana sekarang (2015) masing-masing sampah telah dapat diolah sesuai dengan klasifikasi masing-masing dan sudah ada sistem klasifikasi tempat sampah. Namun, permasalahan baru muncul.
Permasalahan yang muncul adalah mengenai sistem klasifikasi tempat sampah. Mungkin memang tempat sampah pada era sekarang ini sudah tertera label jenis sampah yang seharusnya terkandung di dalamnya akan tetapi tidak jarang kita dapat menemukan sampah yang jatuh tidak pada tempatnya.
Muncul beberapa spekulasi menanggapi permasalahan ini. Pertama, mungkin para pembuang sampah memang sudah tidak peduli klasifikasi sampah saat ia membuang sampah. Kedua, mungkin pemahaman pembuang sampah mengenai klasifikasi sampah agak berbeda dengan maksud awal si pembuat klasifikasi tempat sampah.
Berikut contoh kasusnya untuk spekulasi kedua.
Misal pada suatu daerah terdapat tempat sampah berlabel berikut
Tempat sampah A : Kaleng, gelas, botol
Tempat sampah B : Sampah organik
Tempat sampah C : Lainnya
Dan terdapat 2 (dua) pembuang sampah
X : membuang sampah karet
Y : membuang sampah gelas plastik
Untuk pertama mungkin X akan membuang sampah ke tempat sampah C karena di tempat sampah lain tidak tertera sampah karet, kemudian Y mungkin agak bingung karena yang ingin ia buang adalah gelas plastik di mana di tempat sampah hanya tertera nama gelas (siapa tahu yang dimaksud pembuat adalah gelas keramik atau kaca) dan akhirnya ia membuang sampahnya ke tempat sampah C juga. Hal ini tentunya tidak diharapkan karena apabila dilanjutkan bisa-bisa semua sampah masuk ke tempat lainnya dan akhirnya klasifikasi sampah akan percuma.
Berhubung klasifikasi tempat sampah di tempat yang lain kadang berbeda-beda, keberadaan inovasi yang dapat membantu memilah sampah akan sangat diapresiasi sehingga pembuang sampah tidak perlu lagi memikirkan harus ditaruh ke mana sampahnya.
Upaya memilah sampah secara otomatis dapat dilakukan dengan berbagai cara, 2 (dua) diantaranya adalah.
1. Menggunakan fasilitas pemilah sampah makro
Pada cara ini sampah di tempat sampah dibiarkan bercampur lalu di bawa ke fasilitas pemilah sampah untuk disortir sesuai kebutuhan.
Fasilitas pemilah sampah mungkin dapat seukuran pabrik berupa sabuk metal berjalan dilengkapi sensor/detektor yang dapat digunakan untuk menyortir sampah (sampah kelas A akan diteruskan ke kanal A, begitu juga dengan kelas-kelas lain)
Untuk detektor sendiri mungkin dapat diusahakan dengan berbagai macam sensor yang tentunya akan memiliki kemampuan dan prinsip kerja masing-masing dalam memilah sampah, misal mungkin jika menggunakan detektor gelombang artinya jenis zat pada sampah akan berpengaruh pada kemampuan detektor
Skema fasilitas pemilah sampah makro untuk 2 (dua) kelas sampah, jika diinginkan pembagian yang lebih, katup harus ditambah.
Sistem katup mungkin dapat diganti dengan metode spesifik lain misalnya untuk memisahkan sampah logam digunakan sistem magnet atau sistem spesifik lain.
Kelebihannya :
Seharusnya lebih murah daripada membuat pemilah sampah pada tiap tempat sampah, proses pengumpulan sampah relatif lebih mudah serta keberadaan sampah-sampah akan lebih terpusat
Kelemahannya :
Pada proses penyortiran tentunya akan lebih susah karena detektor sortir akan langsung menghadapi berbagai macam dan banyak sampah pada satu waktu
2. Menggunakan pemilah sampah pada tiap tempat sampah
Prinsip kerjanya kurang lebih harusnya sama pada fasilitas pemilah sampah makro kecuali tidak ada sabuk metal dan ukurannya diperkecil.
Idealnya sampah yang dimasukkan adalah satu persatu sehingga proses sortir akan lebih mudah. Detektor yang digunakan harusnya juga lebih lemah daripada pada fasilitas pemilah sampah makro
Skema tempat sampah untuk 2 (dua) kelas sampah, jika diinginkan pembagian yang lebih, katup harus ditambah.
Kelebihannya :
Sortir harusnya lebih mudah dan efektif, kemungkinan gagal sortir lebih sedikit
Kelemahannya :
Harusnya lebih mahal pengadaannya karena memasang satu detektor tiap tempat sampah artinya memasang satu komputer juga.
Mungkin kesannya akan terlalu menggampangkan. Namun, mungkin itu adalah tantangan kita di masa depan dan perlu diketahui solusi-solusi di atas pada dasarnya hanyalah imajinasi dan idealisme saya semata, sebagai rujukan ide ini terinspirasi dari fasilitas pengolahan sampah di US yang dimuat di
Kesamaan penulisan maupun gagasan semata-mata hanyalah suatu kebetulan, mohon maaf jika terdapat kata yang salah dan segera hubungi saya jika ada masalah.
#tugasprd
Rujukan lain :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar